2017-10-18 08:28:34

Memahami Batik Di 5 Kota Batik di Indonesia

Memahami Batik Di 5 Kota Batik di Indonesia

Pada tanggal 2 Oktober 2009, batik ditetapkan oleh UNESCO sebagai Daftar Representatif Budaya Tak Benda Warisan Manusia atau Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity. Sejak itu, tanggal 2 Oktober ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional oleh Pemerintah Indonesia dan dirayakan dengan anjuran mengenakan batik.

Tak kenal maka tak sayang. Lebih dari sekadar mengenakan batik sehari-hari atau saat momen-momen istimewa, kenali batik lebih lanjut dengan mengunjungi kota-kota yang terkenal dengan tradisi pembuatan batiknya. Berikut kota-kota yang memiliki tempat tersendiri dalam tradisi batik di Indonesia:

1.      Yogyakarta
Sebagai pusat budaya Jawa, tak heran jika tradisi membatik tertua di Pulau Jawa berawal dari wilayah Yogyakarta. Menggunakan pewarna alami, batik Yogyakarta didominasi warna-warna coklat atau sogan dan hitam putih. Di Yogyakarta, batik berawal dari lingkungan Keraton dan hanya boleh digunakan secara eksklusif oleh para bangsawan. Batik Keraton memiliki desain bernilai filosofis penuh makna, dan digunakan sebagai penanda status pemakainya. Lama kelamaan batik menjadi komoditas dan mulai diproduksi oleh lingkungan di luar keraton. Produksi batik di luar Keraton disebut pula dengan batik Sudagaran atau batik Saudagaran.

2.      Solo
Sama halnya dengan Yogyakarta, batik Solo pada mulanya berkembang dari dalam lingkungan Keraton baru kemudian berkembang hingga ke luar Keraton. Selagi di Solo, jangan lewatkan sentra batiknya yang terkenal: Pasar Klewer, Laweyan, dan Kauman. Selain tiga tempat tersebut, wilayah pinggiran Solo seperti Bayat, Klaten, Sukoharjo juga memiliki kerajinan batik yang tak kalah bagusnya, mengambil motif diambil dari motif Lawasan yang pernah dibuat di Keraton. Sama seperti batik Yogyakarta, Warna khas batik Solo adalah sogan atau coklat.

3.      Pekalongan
Batik Pekalongan mudah dikenali karena memiliki perbedaan kontras dengan batik Yogyakarta dan Solo. Meski tradisi membatik di Pekalongan adalah hasil pengembangan batik dari wilayah Yogyakarta dan Solo, perbedaan corak batik Pekalongan ini adalah hasil akulturasi budaya Belanda, Jepang, dan Jawa. Akibat akulturasi budaya tersebut, ragam motif batik Pekalongan lebih bebas dari pakem dan makna filosofis, tetapi lebih realistis dengan warna-warna cerah dan corak flora seperti bunga seruni dan fauna seperti naga, burung hong, dan kupu-kupu. Warna-warni batik asal Pekalongan juga lebih cerah karena menggunakan pewarna kimiawi, khas batik pesisiran utara Jawa.

4.      Cirebon
Batik di Cirebon berkembang dari Desa Trusmi. Di sini, Ki Buyut Trusmi sempat hidup dan bermukim mengembangkan tradisi membatik dari lingkungan Keraton ke lingkungan masyarakat luar keraton. Batik Cirebon mudah dikenali karena warna-warninya yang cerah dan coraknya yang khas. Motif terkenal asal Cirebon adalah antara lain adalah Mega Mendung, Wadasan, Taman Arum, dan Paksi Naga Liman.

5.      Garut
Meski masuk dalam wilayah Jawa Barat, pengaruh kuat batik Garut justru datang dari Banyumas, Jawa Tengah. Produk batik di Garut kental dengan ciri khas pesisiran selatan Jawa Barat dengan motif yang terkenal adalah Bangau, Merak Ngibing, dan Sekarjagad Garutan.

Selagi mengunjungi sentra batik tersebut, sempatkan mengenal lebih jauh keunikan budaya dan cerita di balik motif batik dengan berinteraksi dengan para pembatik dan warga setempat. Jangan lupa untuk selalu melindungi diri selama di perjalanan dengan Travel Insurance dari Jasindo. Sebagai asuransi perjalanan komprehensif, Travel Insurance Jasindo memberikan jaminan manfaat perlindungan medis (reimbursement), bantuan darurat (evakuasi dan repatriasi), kecelakaan diri dan meninggal dunia akibat kecelakaan, ketidaknyamanan perjalanan, dan manfaat lainnya untuk tertanggung yang melakukan perjalanan lintas negeri maupun lintas negara, termasuk Bantuan Tanggung Jawab Hukum dan Risiko Mobil Sewa.

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi Contact Center 24 jam Jasindo di 1-500-073

Bagikan